Langsung ke konten utama

Doa, Ziarah, dan Kebersamaan: Catatan Perjalanan Ruhani Mahasiswa Perantau

Sebagai mahasiswa rantau yang tergabung dalam organisasi daerah Kerukunan Mahasiswa Kabupaten Barito Kuala (KMKB), kami menyadari pentingnya menjaga tali silaturahmi dan memperkuat nilai-nilai spiritual di tengah kesibukan dunia akademik. Salah satu momen yang sangat berkesan dalam perjalanan kami adalah kegiatan ziarah ke makam para ulama besar Banjar, sebuah perjalanan hati yang tak hanya religius, tetapi juga sarat makna kebersamaan, sejarah, dan refleksi diri.

Kubah Guru Zuhdi: Doa dan Keteladanan Sang Ulama Karismatik

Ziarah kami diawali di Kubah Guru Zuhdi, tempat peristirahatan terakhir dari K.H. Ahmad Zuhdiannoor—ulama kharismatik yang begitu dicintai masyarakat Kalimantan Selatan. Kami bersama-sama melantunkan tahlil dan doa, mengenang jasa beliau dalam menyebarkan dakwah yang menyejukkan hati dan membimbing umat dengan kelembutan.

Guru Zuhdi, lahir di Alabio pada 10 Februari 1972, dikenal sejak kecil sebagai sosok yang tekun menuntut ilmu. Beliau banyak belajar dari lingkungan keluarganya dan tokoh besar seperti Guru Sekumpul. Lewat majelis taklim, aktivitas sosial, dan keteladanannya dalam bersabar serta bersyukur, beliau menjadi panutan yang hingga kini terus dikenang. Wafatnya pada 2 Mei 2020 menjadi duka mendalam bagi banyak orang, namun jejak ilmunya tetap hidup dalam ingatan umat.

Makam Sultan Suriansyah: Jejak Islamisasi di Tanah Banjar

Destinasi berikutnya adalah Makam Sultan Suriansyah, raja pertama Banjar yang memeluk Islam. Di sinilah kami kembali mengirimkan doa, sekaligus menghayati kembali sejarah Islam yang mengakar di tanah Kalimantan Selatan.

Sultan Suriansyah, atau Pangeran Samudera, mulai memerintah sekitar tahun 1520. Ia memeluk Islam atas bimbingan utusan dari Kesultanan Demak pada 24 September 1526. Sejak saat itu, beliau dikenal sebagai tokoh penting dalam penyebaran Islam di Kalimantan. Gelar anumerta Panembahan Batu Habang menandai penghormatan masyarakat atas perannya yang monumental. Kini, namanya diabadikan dalam masjid dan situs sejarah yang menjadi ikon religius di Banjarmasin Utara.

Makam Ibunda Habib Basirih: Wasiat yang Penuh Makna

Perjalanan kami dilanjutkan ke makam ibunda dari Habib Basirih, sebagai wujud penghormatan atas wasiat beliau semasa hidup. Di tempat ini, suasana menjadi sangat khidmat. Doa dan tahlil kami dipimpin oleh Ketua Umum KMKB, saudara M. Amin Rizky. Dalam momen ini, terasa kuat kehangatan dan kekompakan yang menyatukan kami sebagai sesama anak rantau.

Kubah Habib Basirih: Warisan Tasawuf dan Akhlak Mulia

Tempat terakhir yang kami ziarahi adalah Kubah Habib Basirih, ulama besar yang dikenal dengan ketekunan dan kedalaman ilmunya dalam bidang tauhid, fikih, dan tasawuf. Sebelum pulang, kami menyempatkan berswafoto bersama dan menikmati jajanan khas yang dijual di sekitar area ziarah—sebuah kebahagiaan kecil yang membingkai kenangan indah.

Habib Hamid Bahasyim, atau Habib Basirih, lahir pada 1860-an dan wafat pada 18 Jumadilawal 1949. Ia belajar agama sejak kecil hingga ke Makkah, di mana ia berguru pada para ulama besar, termasuk Jamaluddin Al-Banjari. Di usia senja, beliau lebih banyak ber-tapa dan memperdalam tasawuf demi meraih makrifatullah. Kehidupannya adalah contoh nyata dari dakwah yang lemah lembut, mendalam, dan penuh kasih.

Menutup Perjalanan dengan Kebersamaan

Kegiatan ini ditutup dengan makan bersama dari hasil iuran kolektif—sebuah bentuk kebersamaan yang sederhana namun bermakna. Lebih dari sekadar kunjungan ke makam, ziarah ini menjadi momen memperkuat ikatan spiritual, mengenal sejarah peradaban Islam di Banjar, dan mengambil pelajaran hidup dari para tokoh besar yang telah lebih dahulu menapaki jalan kebenaran.

Ziarah ini meninggalkan bekas yang dalam di hati kami. Ia mengingatkan bahwa di balik setiap makam yang kami kunjungi, ada cerita perjuangan, keteladanan, dan warisan nilai yang patut kami lanjutkan sebagai generasi penerus.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mubes KMKB 2025: Lahirnya Kepemimpinan Baru di Tengah Apresiasi Teladan

Banjarmasin, 06 Desember 202 5 — Musyawarah Besar (Mubes) Kerukunan Mahasiswa Kabupaten Barito Kuala (KMKB) telah sukses diselenggarakan, menjadi forum tertinggi yang tidak hanya menetapkan arah organisasi tetapi juga mengapresiasi kinerja terbaik kepengurusan sebelumnya. Mubes yang digelar di Banjarmasin , tepatnya di Asrama Putra Barito Kuala (Sekretariat KMKB) ini menghasilkan keputusan penting dan memilih Ketua Umum periode 2025/2026. Acara dibuka dengan penuh semangat kekeluargaan, dihadiri oleh alumni, perwakilan pemerintah daerah, dan seluruh anggota aktif KMKB. Setelah pembukaan resmi, sesi dilanjutkan dengan penyerahan palu sidang kepada Presidium Sidang Sementara untuk memimpin sidang awal. Agenda utama sidang awal adalah pengesahan tata tertib dan pemilihan Presidium Sidang Tetap. Setelah disepakati, Mubes dipimpin secara resmi oleh tiga orang Presidium Sidang Tetap, yang bertugas memastikan jalannya seluruh sidang berjalan lancar, demokratis, dan sesuai tata tertib...

Catatan Awal Perjalanan: Dari Tamban ke Banjarmasin, Dari Anak Daerah Menjadi Mahasiswa Dakwah

  Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan, saya Nur Hadi Saputra , lahir di Tamban , Kabupaten Barito Kuala , Kalimantan Selatan, pada 11 Maret 2005 . Saya adalah anak sulung dari dua bersaudara. Ayah saya, Syamsuri , bekerja sebagai pegawai swasta di perusahaan PLN, sementara ibu saya, Maria Fitriani , adalah seorang ibu rumah tangga yang selalu menjadi sosok teladan dalam kehidupan saya. Saya juga memiliki seorang adik laki-laki, Khaidir Nauval Saputra , yang selalu menjadi sahabat dan partner belajar dalam keluarga kecil kami. Perjalanan pendidikan saya dimulai dari PAUD Harapan Bangsa , dilanjutkan ke TK Pertiwi , kemudian menempuh pendidikan dasar dan menengah di SDN Purwosari I-1 , MTsN 6 Barito Kuala , dan MAN 3 Barito Kuala . Setiap jenjang pendidikan memberi saya pelajaran hidup yang berbeda dan membentuk cara pandang saya dalam menyikapi dunia. Kini, saya tengah menjalani peran sebagai mahasiswa di UIN Antasari Banjarmasin , tepatnya di Fakultas Dakwah d...

Dua Bulan Sekali, Kita Saling Belajar: Catatan kecil tentang voli, kebersamaan, dan cerita tumbuh bersama di asrama

Hari itu, matahari tenggelam sedikit lebih lambat dari biasanya, seolah mengerti bahwa kami masih ingin tertawa lebih lama. Langit belum sepenuhnya gelap ketika kami berkumpul di lapangan berpasir antara Asput dan Astri. Di sinilah tempat kami membiarkan diri lepas dari rutinitas kuliah, laporan, dan tugas-tugas panjang yang terkadang membuat lupa bagaimana caranya bernapas dengan tenang. Pertandingan voli antar asrama memang bukan acara besar. Tidak ada piala, tidak ada penonton dari luar, bahkan kadang tidak ada skor yang benar-benar dihitung dengan serius. Tapi justru karena kesederhanaannya, ia terasa begitu hangat. Seperti pelukan kecil dari hari-hari sibuk yang terlalu cepat berlalu. Aku bukan pemain hebat. Terkadang aku hanya duduk di pinggir lapangan, menyemangati teman-teman, atau tertawa ketika bola meleset jauh dari sasaran. Tapi di situlah letak indahnya kebersamaan. Kami tidak datang untuk menjadi sempurna. Kami datang untuk saling hadir. Setiap pertandingan mengajarkan ha...