Langsung ke konten utama

Dua Bulan Sekali, Kita Saling Belajar: Catatan kecil tentang voli, kebersamaan, dan cerita tumbuh bersama di asrama

Hari itu, matahari tenggelam sedikit lebih lambat dari biasanya, seolah mengerti bahwa kami masih ingin tertawa lebih lama. Langit belum sepenuhnya gelap ketika kami berkumpul di lapangan berpasir antara Asput dan Astri. Di sinilah tempat kami membiarkan diri lepas dari rutinitas kuliah, laporan, dan tugas-tugas panjang yang terkadang membuat lupa bagaimana caranya bernapas dengan tenang.

Pertandingan voli antar asrama memang bukan acara besar. Tidak ada piala, tidak ada penonton dari luar, bahkan kadang tidak ada skor yang benar-benar dihitung dengan serius. Tapi justru karena kesederhanaannya, ia terasa begitu hangat. Seperti pelukan kecil dari hari-hari sibuk yang terlalu cepat berlalu.

Aku bukan pemain hebat. Terkadang aku hanya duduk di pinggir lapangan, menyemangati teman-teman, atau tertawa ketika bola meleset jauh dari sasaran. Tapi di situlah letak indahnya kebersamaan. Kami tidak datang untuk menjadi sempurna. Kami datang untuk saling hadir.

Setiap pertandingan mengajarkan hal yang berbeda. Tentang kerja sama, tentang mendengar lebih dari berbicara, tentang memberi ruang bagi orang lain untuk mencoba. Aku belajar bahwa tidak semua hal harus dimenangkan. Terkadang, cukup dengan ikut bermain saja, hati sudah merasa cukup.

Dan yang paling menyentuh dari semuanya adalah momen setelah pertandingan selesai. Saat tubuh lelah tapi hati terasa ringan. Saat kami berkumpul untuk berfoto, berbaris seadanya, tertawa tanpa alasan, dan mengabadikan sore itu dalam bentuk gambar yang kelak akan kita buka kembali dengan senyum dan sedikit rindu.

Mungkin ketika kami lulus nanti, nama-nama akan perlahan terlupakan. Tapi sore seperti ini akan tetap tinggal. Ia akan hidup dalam kenangan sebagai pengingat bahwa tumbuh tidak selalu harus terasa berat. Bahwa di tengah belajar memahami hidup, ada ruang untuk tawa, untuk jatuh bangun bersama, dan untuk mengenal orang-orang yang secara perlahan menjadi keluarga.

Ini hanyalah cerita sederhana, ditulis oleh seorang mahasiswa biasa. Tapi bagiku, ini lebih dari cukup. Karena dari lapangan berpasir itu, aku belajar bahwa hidup bukan hanya tentang apa yang ditulis di atas kertas. Tapi tentang detik-detik kecil yang diam-diam mengajarkan bagaimana caranya merasa utuh.

Catatan kecil ini kutulis untukku sendiri, agar aku tak lupa bahwa hidup bukan hanya tentang IPK atau skripsi. Tapi juga tentang detik-detik kecil di lapangan voli, di mana aku belajar bahwa kebersamaan bisa tumbuh dari hal-hal paling sederhana.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mubes KMKB 2025: Lahirnya Kepemimpinan Baru di Tengah Apresiasi Teladan

Banjarmasin, 06 Desember 202 5 — Musyawarah Besar (Mubes) Kerukunan Mahasiswa Kabupaten Barito Kuala (KMKB) telah sukses diselenggarakan, menjadi forum tertinggi yang tidak hanya menetapkan arah organisasi tetapi juga mengapresiasi kinerja terbaik kepengurusan sebelumnya. Mubes yang digelar di Banjarmasin , tepatnya di Asrama Putra Barito Kuala (Sekretariat KMKB) ini menghasilkan keputusan penting dan memilih Ketua Umum periode 2025/2026. Acara dibuka dengan penuh semangat kekeluargaan, dihadiri oleh alumni, perwakilan pemerintah daerah, dan seluruh anggota aktif KMKB. Setelah pembukaan resmi, sesi dilanjutkan dengan penyerahan palu sidang kepada Presidium Sidang Sementara untuk memimpin sidang awal. Agenda utama sidang awal adalah pengesahan tata tertib dan pemilihan Presidium Sidang Tetap. Setelah disepakati, Mubes dipimpin secara resmi oleh tiga orang Presidium Sidang Tetap, yang bertugas memastikan jalannya seluruh sidang berjalan lancar, demokratis, dan sesuai tata tertib...

Catatan Awal Perjalanan: Dari Tamban ke Banjarmasin, Dari Anak Daerah Menjadi Mahasiswa Dakwah

  Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Perkenalkan, saya Nur Hadi Saputra , lahir di Tamban , Kabupaten Barito Kuala , Kalimantan Selatan, pada 11 Maret 2005 . Saya adalah anak sulung dari dua bersaudara. Ayah saya, Syamsuri , bekerja sebagai pegawai swasta di perusahaan PLN, sementara ibu saya, Maria Fitriani , adalah seorang ibu rumah tangga yang selalu menjadi sosok teladan dalam kehidupan saya. Saya juga memiliki seorang adik laki-laki, Khaidir Nauval Saputra , yang selalu menjadi sahabat dan partner belajar dalam keluarga kecil kami. Perjalanan pendidikan saya dimulai dari PAUD Harapan Bangsa , dilanjutkan ke TK Pertiwi , kemudian menempuh pendidikan dasar dan menengah di SDN Purwosari I-1 , MTsN 6 Barito Kuala , dan MAN 3 Barito Kuala . Setiap jenjang pendidikan memberi saya pelajaran hidup yang berbeda dan membentuk cara pandang saya dalam menyikapi dunia. Kini, saya tengah menjalani peran sebagai mahasiswa di UIN Antasari Banjarmasin , tepatnya di Fakultas Dakwah d...